Monday, August 22, 2005

Allaahu Akbar

Pernahkan kamu merasakan mukjizat Alloh SWT secara langsung ? Mukjizat Alloh ada di mana-mana, baik kita sadari ataupun nggak. Dan bagi kita yang merasakannya langsung dan menyadarinya, sungguh hal tersebut susah diungkapkan dengan kata-kata.

Sepanjang 2 minggu kemarin, saya bersama dengan 6 orang rekan dikirim perusahaan ke Kuala Lumpur untuk training. Berangkat hari Minggu tanggal 4 Agustus 2005. Nice flight with Malaysia Airlines. Cuaca KL cukup cerah namun terasa lebih panas daripada Jakarta. Hari Senin musibah itu datang...

Kabut asap mulai menyelimuti KL dan beberapa wilayah Malaysia. Selain jarak pandang yang kian menipis karena tebalnya kabut asap, masalah kesehatan terutama pernafasan menjadi makin kritis. Dan tiap hari keadaan makin memburuk. Tingkat API (bukan Audisi Pelawak tpI, tapi Air Pollutant Index) di KL dan beberapa kota lainnya melonjak naik. Kegiatan ibukota dan beberapa kota disekitarnya siang hari menjadi sangat terganggu. Masker pun menjadi best selling product of the year di Malaysia minggu tersebut.

Suasana malam hari agak lebih mendingan. Kadar kabut asap menipis, sehingga lebih banyak orang yang bisa melakukan kegiatan luar rumah. Termasuk kita, cuman bisa jalan-jalan keluar selesai maghrib :P

Pemerintah Malaysia sejauh itu telah mengambil langkah-langkah efektif untuk mengatasi masalah ini. Mulai dari imbauan, bagi-bagi masker, meliburkan lebih dari 700 sekolah dan mengirim beberapa pejabat negara untuk melakukan diskusi diplomatik dengan pejabat negara asal asap tersebut. Yup, negara kita ini. Sampai dengan Selasa (9/8/2005) dilaporkan sekitar lebih dari 300 titik api muncul di daerah Sumatra. Belum lagi yang di Kalimantan.

Satu yang sempat menarik perhatian adalah ajakan untuk melakukan sholat hajat bersama selesai sholat Jum'at (12/8/2005). Juga seruan untuk sholat Istisqo' pada hari kamis. Kalo ga salah di TV1. Perdana Menteri juga menyerukan kepada penganut agama yang lain untuk berdoa di tempat peribadatannya masing-masing pada hari Jum'at. Hari Jum'at, training selesai lebih awal. Selain pesertanya harus sholat Jum'at, John Hurley (trainer kita) juga mo berangkat liburan weekend ke Langkawi. Dari Mid Valler, saya ber-7 naik komuter ke KL Railway Station. Jalan kaki sedikit ke Masjid Negara (National Mosque). Kabut asap masih meyelimuti KL hari itu. Dan sukseslah saya terbatuk-batuk selama di luar komuter. Walo dah nutup muka ala ninja pake bandana, asap masih tembus juga. Belum lagi mata perih. Lantai masjid yang dingin hari itu seakan tak kuasa untuk mencegah suasana gerah yang timbul karena kabut asap.

Isi khutbah kurang lebih mengajak para jamaah untuk introspeksi. Sebagai contoh bahwa musibah "jerebu" yang sedang melanda negara tersebut adalah ulah segelintir dari mereka yang terlalu rakus sehingga melakukan segala cara untuk meraih untung tanpa memperdulikan yang lain. Sementara buletin Jum'at membahas tentang bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Selesai sholat Jum'at, Imam Masjid langsung mengajak untuk sholat Hajat. Sepengamatan saya, lebih dari 90% jamaah mengkutinya. Sisanya khusyuk melakukan dzikir selesai sholat. Dan beberapa saja yang meninggalkan masjid.

Selesai sholat hajat, kita berencana mau melihat-lihat obyek-obyek wisata yang berada disekitar Masjid. Saya, Abim dan Eddy kebetulan keluar dulu ke pelataran masjid. Abim dan Eddy dengan ransel di punggung serta masker menutup muka dah kaya pasukan pembasmi hama saja deh. Begitu kita membalikkan badan ke arah masjid untuk menunggu yang lain, mukjizat itu terjadi.

Angin kencang bertiup di pelataran masjid yang mulai sepi tersebut. Menerbangkan rontokan dedadunan dari pepohonan di sekitar masjid. Semenjak datang ke KL, nyaris ngga ada angin yang bertiup, apa lagi sekencang itu. Tidak hanya itu, kabut asap yang menyelimuti KL sejak 5 hari seakan ikut diterbangkan oleh angin tersebut. Allaahu Akbar. Alloh Maha Besar. Do'a mereka yang melakukan sholat hajat beberapa menit yang lalu langsung terjawab. Kita bertiga, ditambah Sigit yang menyusul ke pelataran masjid cuman bisa takbir serta takjub dengan keadaan saat itu. Matahari kembali nampak sebagaimana mestinya dan disambut dengan gembira oleh orang-orang.

Sigit sempat berkelakar,
"Sungguh doa orang-orang di negara ini masih didengar oleh Alloh. Bagaimana dengan doa di negara kita?"

Abim langsung nyeletuk,
"Orang-orang kita mesti ngelihat diri dulu, Bos. Kalo mau doanya didengar ama Yang Di Atas, yang doa mesti bener dulu dong. Masa doa minta macem-macem tapi korupsi masih dijalanin. Boro-boro didenger, adanya malah dicoba mulu"

Kita ber-7 (minus Karnoto yang masih belom keliahatan) cuman bisa tertawa getir.

Hari Sabtu hujan mengguyur KL. Sholat Istisqo' pun dikabulkan Alloh. Allaahu Akbar. Subhannallah.