Tuesday, March 01, 2005

Komunikasi dan Informasi

Berikut urutan berita di detik.com
01/03/2005 09:46 WIB Dana Kompensasi BBM Dikorupsi? Adukan Saja ke 5678
01/03/2005 11:56 WIB Duh, Kominfo Salah Iklankan Nomor SMS 5678 Pengaduan BBM

SMS Korupsi salah nomor series
01/03/2005 11:17 WIB Kominfo dan Telkom Negosiasi Ulang
01/03/2005 12:05 WIB Nomor 5678 Siapa yang Punya?
01/03/2005 14:29 WIB 'Gunadarma, Relakan Saja.....'
01/03/2005 15:35 WIB Operator Tak Sepakati Nomor 5678
01/03/2005 16:16 WIB Kominfo Ngotot Pakai 5678

Kutipan dari detik.com
Ke mana Anda bisa mengadukan penyelewengan macam itu? Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) telah menyiapkan layanan pengaduan. Lewat iklannya di media cetak untuk menyosialisasikan kenaikan BBM, Depkominfo memasang sejumlah kontak yang bisa menampung pengaduan Anda, sbb:

Layanan bebas pulsa: 0800-1-567877. SMS gratis 5678 dari semua operator. Kotak pos JKP 5678. Faksimili 021-3440051 dan e-mail: kom_bbm@depkominfo.go.id

Maksudnya sangat bagus. Menkominfo menyediakan hotline media bagi publik untuk turut serta 'memantau' jalur distribusi dana yang sebelumnya merupakan dana subsidi BBM ke pihak yang seharusnya menerima. Dalam hal ini adalah rakyat kecil, rakyat miskin.

Tapi ... ada tapinya neh ... berdasarkan berita, Menkominfo udah pasang iklan gede-gedean di berbagai media cetak terkemuka soal nomor hotline + shortnumber untuk SMS Hotline tersebut. Ga tanggung-tanggung, setengah halaman. Di sini polemik muncul.

Begitu baca berita pertama di detik.com, saya langsung kontak beberapa teman. 5678 dipake sapa ? Kalo Telkomsel 5678 dipake SMS-to-eMail, kalo di Indosat Group (IM3, Matrix, Mentari) ternyata dipake layanan SMS Kampus. XL kosong. Operator CDMA juga kayanya kosong, belum teralokasikan.

Aku ga tau sama sekali masalah advertising, tapi kalo iklan baris ajah harga perbarisnya segitu, apa lagi ini sampe setengah halaman. Pasti biayanya nyampe puluhan juta, kalikan dengan jumlah media cetak tempat iklan itu di pasang. Mengutip detik.com, Sektretaris Menkominfo baru dapat informasi kalo nomor tersebut sudah ada pemakainya baru pagi hari ini. Hari saat iklan ditayangkan. Buset dah. Lha sebelumnya ngapain ajah Pak? Pasang ajah iklan, sehabis itu trus keluarin sabda dewa buat make nomor tersebut whatever happen ?

Itu baru shortcodenya ajah. Backend buat ngolah SMS nya sendiri statusnya ga tau deh. Ga dipublish kok. Nah Opsi yang ada:
1. Menkominfo ganti nomor yang benar-benar kosong dan harus check & recheck benar-benar ke seluruh operator sebelum bikin iklan lagi. Katanya sedang diusahakan nomor 7877 walo tetap ngotot di 5678
2. Operator sih kayanya ga masalah kalo ngasih nomor tersebut (technically). Masalahnya adalah content/service provider yang merupakan 'owner' dari nomor tsb. Mau ngasih ga ? Misalnya Gunadarma sbg 'owner' nya 5678 di Indosat Group. Kalo ngasih dan dia ganti nomor 'baru' maka harus ada lagi resource buat sosialisasi ke mahasiswanya. Kalo Telkomsel yah ke seluruh pelanggannya yang manfaatin SMS-to-eMail tadi.

Kalo poin 1, Menkominfo akan keluar biaya iklan lagi. Tapi itu kan dah seharusnya, salah sendiri ga mencari informasi dan melakukan komunikasi yang menyeluruh dengan pihak-pihak terkait.
Kalo poin 2, content provider/operator yang harus keluar duit buat sosialisasi ke pemakai nomor tersebut. Pengorbanan di sisi mereka. Baik itu berkorban secara sukarela dgn konteks ikut menyukseskan program monitoring distribusi dana subsidi BBM tsb. Bisa juga terpaksa karena hrs berurusan dengan "sabda dewa" ^_^

Men-KOMunikasi-dan-INFOrmasi ... tapi kok kayanya lack of communication n information gitu yah ?

Well, whatever. Yang penting mari kita bantu pemerintah mengawasi distribusi dana subsidi BBM ini supaya benar-benar nyampe ke rakyat miskin bukan ke yang ditunjuk ngurusin rakyat miskin. Saya termasuk yang sangat berterima kasih kepada pemerintah sebelumnya karena kedua adik saya mendapat bea siswa waktu SMA untuk mereka yang kurang mampu. Masih banyak anak usia sekolah yang benar-benar perlu dana tersebut. Begitu juga dengan pengobatan. Alhamdulillah, korban DBD paling ga yang di Jakarta sekarang banyak yang mendapatkan (semoga benar) pengobatan gratis.

Step-by-step, semoga pemerintahan sekarang mampu membawa negara ini ke keadaan yang dikit lebih baik. Tentu dengan dukungan kita, rakyatnya. Yang jelek-jelek semoga sadar dan menjadi baik. Kalo ga, yah urusan nanti di akhirat kan ^_^